Banjarmasin – Tidak semua persahabatan mampu bertahan puluhan tahun. Lebih sedikit lagi yang mampu melahirkan karya yang terus memberi manfaat bagi masyarakat. Namun itulah yang dibuktikan oleh Anang Fadillah, Riswan Irfani, dan Muhammad Risanta.
Dipertemukan oleh dunia penyiaran radio sejak era 1990-an, ketiga sahabat ini kembali menyatukan langkah dalam sebuah ruang baru bernama JOURNALIST+, sebuah platform podcast yang lahir dari pengalaman panjang, idealisme, dan semangat berbagi pengetahuan kepada publik.
JOURNALIST+ bukan sekadar podcast biasa. Ia bukan pula ruang nostalgia bagi para mantan penyiar radio. Lebih dari itu, JOURNALIST+ menjadi wadah dialog yang menghadirkan gagasan, pengalaman, dan perspektif yang relevan dengan kehidupan masyarakat di tengah derasnya arus informasi digital.
Saat media sosial dipenuhi informasi yang bergerak cepat dan sering kali dangkal, ketiganya justru memilih menghadirkan percakapan yang lebih bermakna, reflektif, dan mencerahkan.
Mereka berasal dari generasi yang tumbuh di masa ketika suara penyiar radio menjadi teman perjalanan masyarakat. Pada masa itu, informasi disampaikan dengan ketelitian, kedalaman, dan tanggung jawab. Nilai-nilai itulah yang kini mereka bawa ke dalam format baru yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman.
“Awalnya hanya obrolan santai untuk melepas rindu. Namun dari pertemuan itu muncul kesadaran bahwa pengalaman panjang yang kami miliki tidak boleh berhenti menjadi cerita pribadi. Harus ada manfaat yang bisa dibagikan kepada masyarakat,” ujar Anang Fadillah, host sekaligus salah satu pendiri JOURNALIST+.
Sebagai Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kalimantan Selatan, Anang melihat kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang tidak hanya cepat, tetapi juga berkualitas, berimbang, dan mampu memberikan inspirasi.
Sementara itu, Riswan Irfani menghadirkan perspektif pendidikan dan kebudayaan dalam setiap perbincangan. Mantan jurnalis yang kini aktif sebagai praktisi pendidikan dan penggiat seni tersebut menilai media memiliki peran penting dalam menjaga kualitas kehidupan sosial masyarakat.
“Media harus mampu menjaga akal sehat masyarakat. Ia harus menjadi ruang pembelajaran, ruang kebudayaan, sekaligus ruang yang membangun harapan,” katanya.
Menurut Riswan, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari perkembangan teknologi dan ekonominya, tetapi juga dari kemampuannya merawat identitas budaya serta nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi kehidupan bersama.
Di sisi lain, Muhammad Risanta yang dikenal sebagai Jurnalis Senior CNN Indonesia sekaligus Ahli Pers Dewan Pers membawa perspektif jurnalistik yang kuat dalam setiap episode yang diproduksi.
Baginya, JOURNALIST+ hadir sebagai jembatan yang menghubungkan pengalaman masa lalu dengan tantangan masa depan. Di tengah era banjir informasi, masyarakat membutuhkan ruang dialog yang mampu menghadirkan pemahaman, bukan sekadar informasi.
“Kita hidup di era banjir informasi. Semua orang bisa berbicara, tetapi tidak semua informasi menghadirkan pemahaman. Karena itu dialog yang sehat dan berkualitas menjadi semakin penting,” ujarnya.
Lahirnya JOURNALIST+ juga menjadi bukti bahwa perkembangan teknologi tidak harus menjauhkan manusia dari nilai-nilai yang telah lama dibangun. Sebaliknya, platform digital dapat menjadi sarana untuk meneruskan semangat literasi, edukasi, dan diskusi yang dahulu tumbuh di ruang-ruang siaran radio.
Dari studio yang sederhana, ketiga sahabat ini membahas berbagai tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari pendidikan, budaya, ekonomi, media, pariwisata, kepemimpinan, hingga isu-isu sosial yang berkembang di tengah masyarakat.
Tidak ada sekat antara narasumber dan pendengar. Tidak ada jarak antara pengalaman dan pembelajaran. Yang dihadirkan adalah percakapan yang jujur, mengalir, dan sarat makna.
Bagi Anang, Riswan, dan Risanta, JOURNALIST+ bukan tentang popularitas ataupun mengejar angka penonton semata. Podcast ini lahir dari keyakinan bahwa gagasan yang baik harus terus dibagikan dan pengalaman yang berharga harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Melalui JOURNALIST+, mereka membuktikan bahwa karya tidak mengenal batas usia dan semangat untuk belajar serta berbagi tidak pernah lekang oleh waktu.
Sebab terkadang, perubahan besar tidak selalu lahir dari panggung megah atau ruang rapat yang mewah. Kadang-kadang, perubahan itu justru bermula dari tiga sahabat yang duduk bersama, berbagi satu mikrofon, lalu menghadirkan sejuta inspirasi untuk Indonesia.
Rel





