Banjarmasin – Sebuah inovasi keuangan berbasis budaya diluncurkan dengan nama Obligasi PANJAR, akronim dari PAribasa baNJAR. Produk ini memperkenalkan filosofi lokal dalam bentuk obligasi daerah yang diberi nama “Rajaki Kai”, sebagai upaya memperkuat identitas daerah dalam sektor keuangan.
Apa itu Obligasi PANJAR?
Obligasi PANJAR adalah instrumen pembiayaan yang dirancang untuk mendukung pembangunan daerah dengan pendekatan budaya. Nama “Rajaki Kai” terinspirasi dari paribasa (pepatah) Banjar: “Yang tadi pandiran di getek, nyatanya dibawa angin sampai ke langit,” yang secara filosofis bermakna hal kecil yang awalnya dianggap remeh, ternyata bisa berkembang besar dan menjulang tinggi.
Siapa yang meluncurkannya?
Program ini merupakan kolaborasi antara pemerintah daerah Kalimantan Selatan, lembaga keuangan daerah, dan komunitas budaya Banjar, sebagai bagian dari upaya mengintegrasikan nilai-nilai lokal dalam sistem ekonomi modern.
Obligasi PANJAR diluncurkan di Kalimantan Selatan dan ditujukan untuk publik luas, baik investor lokal maupun nasional, dengan harapan menarik minat terhadap potensi ekonomi dan budaya daerah.
Kapan peluncurannya?
Program ini diumumkan dalam rangkaian Hari Jadi Provinsi Kalimantan Selatan, sebagai simbol sinergi antara pembangunan ekonomi dan pelestarian budaya daerah.
Mengapa memakai pendekatan budaya?
Pendekatan kultural dinilai mampu menciptakan kedekatan emosional antara masyarakat dan instrumen keuangan. Dengan memakai istilah “Rajaki Kai”, masyarakat Banjar diajak untuk percaya bahwa pembangunan ekonomi bisa dimulai dari ide-ide sederhana yang digerakkan oleh semangat gotong royong dan nilai lokal.
Bagaimana implementasinya?
Obligasi ini ditawarkan dalam bentuk surat utang daerah dengan imbal hasil menarik dan tujuan pembiayaan proyek strategis, seperti infrastruktur hijau dan pengembangan UMKM. Penjualannya dilakukan secara digital maupun melalui mitra distribusi perbankan.
Dengan menghadirkan Obligasi PANJAR “Rajaki Kai”, Kalimantan Selatan menjadi salah satu daerah pertama di Indonesia yang mengintegrasikan kearifan lokal dalam mekanisme pasar keuangan modern, sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap warisan budaya Banjar di tengah kemajuan zaman. adv





