Banjarmasin (06/10) – Terminal Petikemas Banjarmasin (TPK Banjarmasin) terus memperkuat transformasi operasional sebagai bagian dari perjalanan lima tahun PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo. Sejak Agustus 2025, pembenahan dilakukan secara bertahap melalui penguatan sumber daya manusia, penataan infrastruktur dan area terminal, standardisasi fasilitas dan peralatan, hingga modernisasi peralatan bongkar muat.
Terminal Head TPK Banjarmasin Sirin Purnomo mengatakan berbagai pembenahan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun operasional yang lebih aman, andal, dan efisien sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada pengguna jasa.
“Lima tahun perjalanan Pelindo menjadi momentum untuk melihat kembali perubahan yang telah dilakukan sekaligus mempersiapkan langkah ke depan. Penguatan SDM, proses, fasilitas, keselamatan, dan peralatan kami lakukan secara bertahap untuk mendukung operasional yang semakin andal,” ujar Sirin.
Pada aspek SDM, TPK Banjarmasin meningkatkan kompetensi melalui Container Training Operation (CTO), Technical Planning & Control (PnC), dan On the Job Training (OJT). Pembenahan infrastruktur meliputi pembangunan PnC dan gedung kantor, penghijauan, penataan area parkir, serta marking Container Yard (CY) dan dermaga.
TPK Banjarmasin juga membangun shelter waiting area, menata rambu, serta melakukan standardisasi Head Truck dan peralatan bongkar muat. Modernisasi kemudian dilakukan melalui penambahan Head Truck dan Electric Rubber Tyred Gantry (E-RTG) untuk mendukung efisiensi kegiatan operasional.
Selain itu, Container Crane (CC-06) diperkuat dengan penambahan twinlift spreader yang memungkinkan penanganan dua peti kemas kosong ukuran 20 feet dalam satu lifting cycle, sehingga mendukung peningkatan produktivitas bongkar muat.
Sirin mengatakan pengembangan fasilitas dan peralatan perlu berjalan bersama peningkatan kompetensi SDM serta penerapan standar keselamatan.
“Transformasi bukan hanya mengenai fasilitas dan peralatan, tetapi juga kesiapan orang dan proses yang menjalankannya. Karena itu, semuanya perlu bergerak beriringan,” katanya.
TPK Banjarmasin beroperasi selama 24 jam dengan berbagai aktivitas yang saling terhubung, mulai dari perencanaan bongkar muat, pelayanan kapal dan petikemas, penanganan kontainer di lapangan, hingga pergerakan kendaraan di area terminal. Koordinasi lintas fungsi menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran kegiatan.
Di sisi pelayanan, komunikasi dengan pengguna jasa terus dilakukan untuk memperoleh masukan sekaligus menjadi bahan evaluasi dan penyempurnaan layanan.
“Kami ingin setiap perubahan yang dilakukan memberikan dampak nyata, baik terhadap operasional maupun pelayanan. Masukan pengguna jasa dan kondisi di lapangan menjadi bagian dari proses kami untuk terus melakukan perbaikan,” ujar Sirin.
Pada Oktober 2026, TPK Banjarmasin tengah mempersiapkan penerapan TOS Nusantara sebagai bagian dari penguatan sistem operasional terminal menuju proses yang lebih terintegrasi.
Sirin mengatakan penguatan ke depan akan tetap diarahkan pada keseimbangan antara teknologi, kesiapan SDM, keandalan peralatan, keselamatan, dan kualitas pelayanan.
“Apa yang sudah dibangun akan terus kami optimalkan, sementara kebutuhan baru akan kami respons secara bertahap. Tujuannya tetap sama, yaitu menjaga keandalan operasional dan memberikan pelayanan yang semakin baik kepada pengguna jasa,” tutup Sirin.
Transformasi tersebut menjadi bagian dari upaya TPK Banjarmasin memperkuat peran terminal dalam mendukung kelancaran arus logistik di Kalimantan Selatan.
Rel





