Ketika Semua Orang Bisa Jadi Media, Apa yang Tersisa untuk Wartawan?

SURABAYA – Dahulu, untuk menyebarkan informasi kepada publik dibutuhkan ruang redaksi, reporter, kamera, dan sebuah media. Kini, satu telepon genggam dan akun media sosial sudah cukup untuk membuat sebuah informasi menjangkau ribuan bahkan jutaan orang.

Perubahan itu membuat batas antara media, pembuat konten, dan masyarakat semakin tipis. Informasi tidak lagi harus menunggu proses panjang di ruang redaksi, tetapi dapat langsung bergerak melalui Instagram, TikTok, video warga, caption, hingga dorongan algoritma.

Fenomena inilah yang kemudian melahirkan apa yang disebut homeless media.

Redaktur Tempo.co Mitra Tarigan menjelaskan, homeless media merupakan akun atau kanal informasi yang tidak selalu memiliki struktur seperti media konvensional, tetapi mampu membangun basis pengikut yang besar dan menjadi salah satu sumber informasi masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Mitra dalam paparannya bertajuk “Homeless Media dan Era AI” pada Media Gathering Bank Kalsel di lantai 16 Hotel Platinum Tunjungan Raya Surabaya.

Menurut Mitra, model homeless media memiliki sejumlah keunggulan. Biaya operasional relatif rendah, distribusi informasi cepat, jangkauan luas, fleksibel, serta memiliki peluang monetisasi melalui kerja sama dengan merek, sponsorship, maupun affiliate.

Bahkan, keberadaan mereka dapat memberikan keuntungan bagi kerja jurnalistik.

“Homeless media juga dapat menjadi mata dan telinga wartawan. Mereka sering berada lebih dahulu di lokasi kejadian dan mengetahui isu yang sedang dibicarakan masyarakat,” ungkap Mitra.

Namun, kecepatan bukan satu-satunya ukuran dalam jurnalisme.

Di sinilah, menurut Mitra, terdapat garis pembeda antara homeless media dan wartawan. Sebuah konten dapat berhenti setelah informasi dipublikasikan. Sementara wartawan masih memiliki pekerjaan lanjutan berupa verifikasi, mencari konteks, melakukan konfirmasi, serta mempertanggungjawabkan informasi yang disampaikan kepada publik.

Perubahan semakin cepat dengan hadirnya artificial intelligence (AI). Teknologi ini kini dapat membantu pekerjaan jurnalistik mulai dari mentranskripsikan audio dan video, membuat ringkasan, menerjemahkan, menyusun draf awal, membuat judul, hingga mengekstraksi dan menganalisis data.

Persoalannya bukan lagi apakah wartawan akan menggunakan AI atau tidak.

“Bagi jurnalis, persoalannya bukan lagi apakah harus menggunakan AI atau tidak, tetapi bagaimana menggunakan AI tanpa meninggalkan prinsip-prinsip jurnalistik,” kata Mitra.

Di balik kemudahan tersebut, AI juga membawa sejumlah risiko, mulai dari bias, halusinasi informasi, kutipan palsu, deepfake, hingga persoalan hak cipta.

Karena itu, AI tidak ditempatkan sebagai pengganti wartawan, melainkan sebagai alat bantu kerja.

“Kendali manusia tetap menjadi kunci,” tegas Mitra.

Menurutnya, wartawan tetap harus memverifikasi fakta, mengoreksi kesalahan, mempertimbangkan aspek etika, memahami konteks, dan mengambil keputusan editorial.

Di tengah teknologi yang semakin mampu menghasilkan konten, justru sejumlah kemampuan manusia menjadi semakin bernilai.

Investigasi mendalam, wawancara dengan narasumber, verifikasi informasi kompleks, menentukan nilai berita, menemukan sudut cerita yang unik, membangun hubungan dengan sumber, hingga memahami nuansa sosial, budaya, dan politik tetap membutuhkan kemampuan manusia.

Bagi wartawan daerah, kekuatan tersebut bahkan dapat menjadi keunggulan tersendiri.

Pengetahuan lokal yang autentik, akses terhadap sumber di daerah, dan pemahaman terhadap persoalan masyarakat setempat merupakan modal yang tidak mudah digantikan teknologi.

Karena itu, Mitra mengingatkan wartawan agar tidak terjebak membuat berita hanya demi memenuhi kebutuhan mesin atau algoritma.

Berita, menurut dia, harus tetap dibuat untuk manusia: bermanfaat, kaya konteks, jelas, orisinal, memiliki bukti, serta didukung sumber yang dapat dipercaya.

Tuntutan terhadap wartawan pun berubah. Setidaknya ada lima kemampuan yang semakin penting, yakni literasi AI, kemampuan verifikasi, literasi data, kemampuan editorial, serta human-centered skills.

Literasi AI diperlukan agar wartawan memahami cara kerja, kemampuan, bias, dan keterbatasan teknologi. Kemampuan verifikasi menjadi penting untuk menguji informasi secara independen sekaligus mengenali manipulasi dan deepfake.

Sementara literasi data membantu wartawan membaca dan menjelaskan data kepada masyarakat dengan bahasa yang sederhana. Kemampuan editorial diperlukan agar wartawan tidak sekadar mengikuti apa yang sedang viral, tetapi mampu menentukan informasi yang benar-benar memiliki nilai berita.

Adapun kemampuan yang berpusat pada manusia mencakup empati, wawancara mendalam, membangun kepercayaan dengan narasumber, serta menjaga etika jurnalistik.

Pada akhirnya, teknologi memang membuat produksi konten semakin murah dan cepat. Namun, hal itu tidak otomatis membuat jurnalisme kehilangan nilai.

Justru ketika informasi semakin melimpah dan konten semakin mudah dibuat, sesuatu yang orisinal, pengetahuan lokal, akses, kemampuan verifikasi, dan kepercayaan menjadi semakin mahal.

“Teknologi boleh semakin pintar. Tetapi kepercayaan masyarakat tetap harus diperjuangkan oleh manusia,” demikian pesan yang mengemuka dalam paparan tersebut.

ang

Pos terkait