Dan Jamaah NU pun Ikut Terlena Materialisme

Oleh M Syarbani Haira*

 

Saya hadir bumi ini tiga tahun setelah Pemilu 1955. Event ulang tahun tak pernah diperingati khusus. Malah negara yang melakukannya, bersamaan dengan Peringatan Hari Pendidikan Nasional. Sejak lahir, hingga hari ini, umat Islam dari berbagai penjuru dunia hampir setiap saat usai shalat atau pertemuan silaturahim, mendoakan saya bersama umat Islam lainnya, agar mendapatkan Rahmat dari Allah SWT. Apalagi kedua orang tua dan keluarga lainnya, juga guru-guru saya, selalu mendoakan agar saya menjadi anak yang baik, berbakti pada orang tua, agama dan bangsa.

 

Alhamdulillah secara umum doa dan harapan itu sudah terpenuhi. Perjalanan karier saya menjadi pendidik, ustadz atau guru, di sebuah kampus  negeri. Saya aktif di NU, bahkan mendirikan Universitas NU yang mulai digagas sejak 2007, tetapi baru berhasil dioperasionalkan 2014. Ironisnya, hanya dalam hitungan tahun, tepatnya 6 atau 7 tahun, kampus ini dikuasai para pendatang asing, yang  sama sekali tak terlibat dalam proses pendirian.

 

Saya menjadi bagian jam’iyyah NU, perkumpulan keagamaan yang didirikan para ulama, antara lain Kyai Hasyim Asy’ari, Kyai Wahab Hasbullah, Kyai Bisri Syansuri dan sejumlah ulama hebat lainnya, sejak dari kandungan. Kenapa ? Karena bapak saya, yang di kampung dipangil Mu’alim KH Muhammad Ramli Anang, menjadi aktivis Pandu NU sejak beliau sekolah, entah ketika di pesantren Amuntai (Hulu Sungai Utara), Nagara (Hulu Sungai Selatan), Gontor (Ponorogo, Jawa Timur). Kemudian menjadi Ketua Ranting Partai NU di akhir tahun 1960-an hingga awal 1970-an. Pimpinan PCNU HSU sejak 1980-an, hingga beliau wafat di usia 92 tahun 2020 silam, karena factor usia. Jabatan beliau terakhir, Mustasyar PCNU HSU. Demikian pula dengan mama, yang selalu membersamai Jemaah Muslimat dalam berbagai pertemuan, di desanya.

 

Saya pribadi sempat menjadi anggota IPNU. Sejak 1977-1978 menjadi aktivis PMII Cabang Yogyakarta. Setelah malang melintang sebagai aktivis PMII dan pers mahasiswa, mulai 1984 saya terjun ke pers umum, mulai di Surabaya, Jakarta, dan di Banjarmasin. Saat Kembali ke kota “seribu Sungai” ini, saya kembali diajak membantu sahabat-sahabat PMII, dan NU. Apalagi setelah saya menjadi dosen tetap di IAIN Antasari, sejak itu saya kembali aktif membantu NU. Terlebih pasca “Khittah 1926” pada Muktamar NU ke-27 di Situbondo, Jawa Timur 1984, aktivitas ber-NU terus berlanjut. Hingga 2007 terpilih menjadi Ketua Tanfidziah PWNU Kalsel dua periode, masa khidmat 2007-2012 dan 2012-2017. Tak hanya itu, pada Muktamar NU ke-34 di Lampung Desember 2021, juga dipercaya menjadi salah satu Katib Syuriah PBNU masa khidmat 2021 – 2026.

 

***

 

Selama ber-NU, saya mengamati betul sikap, langkah dan perilaku jamaah NU, baik yang structural, maupun yang kultural. Sejak era Orde Lama, hingga sekitar 25 tahun era Orde Baru, baik yang structural mau pun yang kultural, nampak sekali terlihat keikhlasan dan ketulusan jamaah dalam ber-NU. Pada 1970, setahun sebelum Pemilu 1971 (Pemilu pertama era Soeharto), bapak saya sebagai Ketua Partai NU di kampung, mengadakan event Lailatul Ijtima’, mendatangkan sejumlah tokoh NU dari kota. Untuk suksesnya event ini, warga  ramai-ramai urunan, ada yang membawa kelapa, sayur, ayam, lombok, beras, dll nya, untuk menyiapkan makanan jamaah yang hadir.

 

Saya kagum, tumpukan ayam kampung yang sudah disembelih meng”gunung”, mereka ramai-ramai membersihi, dan memasaknya. Mereka bikin “tungku” buat “mengawah” nasi, dan kaum muslimat memasak lauk. Semangat untuk mensukseskan NU dalam Pemilu 1971 itu luar biasa, gotong royong besar yang pernah saya saksikan untuk NU kala itu. Karena pasca itu, aparat tak lagi mengijinkan. Apalagi para kepala kampung dan hansip-hansip yang dibentuk negara, melarangnya. Tahun 1970-an dan 1980-an itu adalah era yang lumayan reprisive sekali dialami NU.

 

Apalagi salah satu kontenstan di era Orde Baru, PPP dengan benteng utama NU bisa mengalahkan partai pemerintah di tiga provinsi, seperti Daerah Istimewa Atjeh, Daerah Istimewa Khusus (DKI) Jakarta, dan Kalimantan Selatan. Karena kejadian tersebut, Jenderal Besar Soeharto makin garang. Puncaknya, terjadilah “polarisasi” di tubuh NU, tahun 1982, antara “Kubu Cipete” (kaum politisi NU, seperti Chalid Mawardi cs) vs “Kubu Situbondo”, Jawa Timur (jajaran ulama, Syuriah PBNU, seperti Kyai Ali Maksum cs). Dua kubu ini baru mulai hilang setelah NU menyelenggarakan Muktamar di Situbondo, Jawa Timur tahun 1984.

 

Salah satu keputusan besar Muktamar NU ke-30 adalah kembalinya NU sebagai jam’iyyah, dengan icon “Khittah NU 1926”. Dengan icon ini, maka sejak itu elite partai, khususnya pasca Partai NU yang bubar tahun 1973, jam’iyyah NU yang semula hanya didominasi PPP, maka semua orang partai memiliki peluang yang sama untuk menjadi pengurus NU. Sejak 1984 itu, ada orang-orang Golkar dan PDI mulai aktif di NU, namun tidak bisa sebagai elite utama.

 

Namun demikian, keunggulan jamaah NU dalam berbagai event tetap terpelihara dengan baik. Keswadayaan jamaah untuk NU menjadi ciri khas utama. Orang NU jika sedang ada event, selalu urunan. Mereka hadir ke arena acara, seperti Munas atau Muktamar, dengan dana sendiri. Dana swadaya. Selain kas NU yang didapat dari sumbangan warga NU, dan para politisi NU. Saya masih ingat bapak saya, dan beberapa tokoh NU banua lainnya, jika harus pergi ke pulau Jawa menghadiri event NU, umumnya kala itu naik kapal laut, mengingat kala itu naik pesawat merupakan barang mahal.

***

Bersamaan dengan kemajuan Pembangunan di era orde baru itu, dengan pertumbuhan ekonomi yang lumayan signifikan di atas 6 %, secara global faham materialisme – kapitalisme sudah mulai menyentuh ketenangan warga di negeri ini. Bangsa Indonesia, di mana di dalamnya termasuk jamaah NU, mulai kerasukan faham materialisme kapitalisme ini. Sejak itu, jamaah NU mulai menikmati dinamika materialisme, bersama bangsa Indonesia lainnya. Secara ekonomi, beberapa tokoh NU juga mengalami transformasi, dengan munculnya kaum “aghniya”, untuk tidak menyebut “konglomerat”.

 

Para kaum aghniya itu, yang sebagian di antara mereka ada yang minus religiusitas-nya, menjadi bahagia jika sudah mensedeqahkan sebagian harta kekayaannya untuk para tokoh NU, yang memang dikenal sebagai tokoh agama. Demikian juga para pejabat (umara), setali tiga uang. Sejak itu, setidaknya sejak tahun 1990-an, ada ulama NU yang menjadi semacam “piaraan” kaum aghniya dan umara. Mereka tak segan-segan menggelontorkan dolar miliknya, untuk ulama “piara”-annya. Hebatnya, jam’iyyah NU pun mendapatkan dampaknya. Hampir semua kebutuhan event NU bisa tertutupi. Untuk sekarang misalnya, jika ingin menghadiri muktamar, NU banua bisa mengirim delegasinya lebih dari satu pesawat. Ini transformasi gaya hidup yang luar biasa. Ini bisa positif tetapi sebaliknya bisa pula berdimensi negative.

 

Dinamika ini sekaligus merubah potret dan profil aktivis NU. Kaum shufi, dan ulama khos, yang selalu tulus dan Ikhlas, memilih leave atau tidak dipakai di NU. Kemudian masuklah kaum pragmatis ke tubuh NU. Dalam catatan saya, menjelang Muktamar NU 1997 di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat, memang mulai terasa adanya godaan materialism dan pragmatism ini.

 

 

Salah satu ciri dari kaum pragmatis ini, mereka berebut untuk menjadi pemimpin NU. Tetapi tak pernah dari mereka itu untuk berebut atau berlomba-lomba memakmurkan NU. Ada pengurus NU yang hanya hidup di tiga musim”. Pertama, musim konferensi wilayah atau cabang, karena mereka ingin menjadi elite. Kedua, musim muktamar, karena mereka bisa pergi menghadiri arena dengan fasilitas naik pesawat, dan pulangnya, dapat berkah. Ketiga, event pilkada dan pemilu.

 

Di luar tiga event tersebut, mereka ngaso lagi. Jam’iyyah NU menjadi wujuduhu ka’adamihi.  Lihat saja, setelah mereka memimpin NU, tak ada asset baru yang jadi kenangan. Ironisnya, justru yang terjadi ada pula pasca selesai memimpin NU, asset NU malah hilang. Jamaah NU itu sendiri memilih diam, sehingga kemungkinan besar asset-asset NU bisa hilang semuanya. Kecuali ada di antara mereka itu tetap peduli dengan NU, berikut asset-asetnya.

 

Menjelang Muktamar NU ke-35 2026 ini, gerakan kasak-kusuk para elite NU mulai terdengar dan hidup kembali. Setelah hamper 5 tahun sunyi dan senyap, sekarang mereka mulai bergerilya, bikin acara seperti silaturahim Keluarga Besar NU. Kebetulan mereka itu memiliki jaringan internasional, sehingga pendanaannya tidak pernah ada masalah. Dia bisa membayar tiket pesawat berapa pun orang yang akan berangkat. Tidak hanya itu, usai acara dan menjelang pulang, mereka pun membagi berkah kepada warga NU yang hadir.

 

Sebagai orang yang lumayan lama aktif di NU, saya memahami betul fenomena ini. Tanpa bermaksud menyombongkan diri, jika ada undangan yang difasilitasi keberkahan ini dinilai destruktive, maka saya tak akan menghadirinya. Karena saya tetap berpikir untuk NU masa depan. Saya tak dapat membayangkan, apa yang akan terjadi, jika saja elite NU selamanya terlena oleh faham materialism pragmatism ini. Kelompok ini jelas kali terlihat tak pernah ada dari mereka itu yang mikir bagaimana agar NU itu menjadi lebih genuine dan briliant. Punya asset yang terkait dengan kemajuan ekonomi, pendidikan, social dan kesehatan. Buktinya selama kepemimpinan mereka, tak ada karya apa pun untuk NU.

 

Kita menyadari bumi ini akan diisi oleh dua pola yang kadang head to head, berhadap-hadapan. Ada yang baik dan ada yang sebaliknya. Dua-duanya akan tumbuh subur. Semoga saja kelompok generasi NU masa depan adalah kelompok yang berpikir positif masih dominan. Jika tidak, menunggu waktu saja kehancuran perkumpulan ulama berlogo “Bola Dunia” ini. Wallahu’alam bis-sawab … !!!

 

Penulis, Pernah Menjadi Pengurus NU, dan Berniat Mengabdi Untuk NU

 

Pos terkait