Oleh: Noorhalis Majid

Sering dijumpai, seorang politisi sepertinya sangat vokal, bersuara lantang memperjuangkan aspirasi warga, namun tidak lama, setelah “dibisai”, dipanggil dan diajak bicara oleh orang berpengaruh, seketika hilang suaranya, tidak terdengar lagi kevokalannya.

Vokalnya sebentar saja, meletup-letup seperti “kalalatu”, yaitu bunga api hasil bakaran, setelah itu terbang ke udara menjadi abu dan bahkan hanya menjadi kukus, tidak membesar menjadi api perubahan.

Betapa sering politisi menyuarakan persoalan warga, tapi tidak lama setelahnya hilang. Bahkan ketika ditanyakan kembali, pura-pura lupa. Padahal sebelumnya “hamuk”, seolah siap perang untuk memperjuangkannya.

Kebudayaan Banjar unik sekali menggambarkan orang yang vokal atau kritis yang hanya sesaat atau bahkan musiman, dengan ungkapan “hamuk kalalatu”. Kalau ada politisi yang vokal seperti itu, dibiarkan pun tidak memberi pengaruh apa-apa. Apalagi diberi jabatan, kedudukan, langsung teredam tanpa ada suara lagi.

Pemimpin politik berkarakter, mestinya konsisten menyuarakan aspirasi warga. Perjuangkan sampai akhir, hingga aspirasi tersebut mendapat penyelesaikan. Karena dia berjuang berdasarkan nilai-nilai yang diyakini. Kalau dia anti diskriminasi, maka semua soal terkait diskriminasi akan disuarakannya. Kalau dia fokus pada keadilan, semua tindakan dan kebijakan yang tidak adil akan disuarakan.

Pun kalau dia anti korupsi, semua hal yang berbau korupsi, kolusi dan nepotisme, akan lantang disuarakan sampai tuntas, hingga berujung pada tindakan hukum. Begitulah ciri politisi yang berkarakter. “Basic” perjuangannya pada nilai yang diyakininya.

Pasti karakter seperti itu tidak mungkin didapatkan dari politisi karbitan. Mustahil lahir dari oligarki kekuasaan. Hanya karena orang tuanya pimpinan atau pemilik Parpol, mudah saja menduduki jabatan-jabatan politik, karakter kepemimpinannya tidak dibangun berdasarkan nilai-nilai.

Dan yang lebih parah, “hamuk” memperjuangkan kepentingan warga, hanya bila diliput media. Setelah semua awak media pergi, antara yang diprotes dan yang memprotes, duduk tertawa dalam satu meja makan yang sama, “hamuk kalalatu”.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *