Banjarmasin (28/09) – Terminal Petikemas Banjarmasin terus memperkuat transformasi operasional melalui pengembangan fasilitas dan tata kelola layanan yang mendukung terciptanya kegiatan kepelabuhanan yang aman, tertib, efisien, dan nyaman, termasuk bagi para pengemudi truk sebagai bagian penting dalam rantai logistik.
Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui penyediaan Shelter Waiting Area, fasilitas ruang tunggu khusus bagi pengemudi truk yang menunggu giliran atau jadwal pelayanan bongkar muat. Fasilitas ini menjadi bagian dari upaya penataan alur kendaraan di dalam kawasan terminal agar proses pelayanan dapat berlangsung lebih teratur sekaligus mendukung aspek keselamatan operasional.
Melalui Shelter Waiting Area, pengemudi memiliki ruang yang lebih layak dan nyaman untuk beristirahat selama menunggu pelayanan. Penataan ini juga membantu mengurangi potensi antrean kendaraan di area yang tidak diperuntukkan sebagai tempat menunggu, sehingga pergerakan kendaraan di lingkungan terminal dapat berlangsung lebih tertib.
Shelter Waiting Area dilengkapi dengan sejumlah fasilitas pendukung, antara lain tempat istirahat, mushala, toilet, air minum, serta kopi gratis yang dapat dimanfaatkan oleh pengemudi selama menunggu giliran pelayanan. Selain itu di shelter waiting area juga terdapat fasilitas Post Gate untuk menyelesaikan kendala pada saat pelayanan di Main Gate seperti, adanya ketidaksesuaian data antara fisik container dan sistem permohonan, adanya temuan kerusakan container dan juga kendala atau pemasangan stiker Truck Identifcation Number (TID).
Terminal Head TPK Banjarmasin Sirin Purnomo mengatakan, penyediaan fasilitas tersebut merupakan bagian dari upaya terminal untuk meningkatkan kualitas layanan dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan dan kenyamanan pengguna jasa.
“Kami ingin memastikan bahwa peningkatan operasional dan produktivitas terminal berjalan seiring dengan peningkatan kenyamanan bagi para pengemudi. Shelter Waiting Area ini merupakan salah satu bentuk perhatian kami terhadap pengguna jasa, sekaligus bagian dari penataan alur kendaraan agar lebih tertib, aman, dan nyaman selama berada di kawasan terminal,” ujar Sirin Purnomo.
Menurut Sirin, pengemudi truk memiliki peran penting dalam mendukung kelancaran rantai logistik, sehingga pengalaman mereka selama berada di terminal juga menjadi bagian dari kualitas pelayanan secara keseluruhan.
“Bagi kami, pelayanan bukan hanya tentang proses bongkar muat, tetapi juga bagaimana setiap orang yang terlibat di dalamnya mendapatkan lingkungan kerja dan pelayanan yang aman serta nyaman. Kami akan terus melakukan penyempurnaan terhadap fasilitas maupun proses operasional sesuai kebutuhan di lapangan,” tambah Sirin.
Sementara itu, Yudi, salah seorang pengemudi truk eksternal yang menggunakan fasilitas terminal, menyampaikan bahwa keberadaan Shelter Waiting Area memberikan ruang yang lebih nyaman bagi pengemudi ketika menunggu jadwal pelayanan.
“Sekarang kalau menunggu tidak perlu lama-lama di dalam truk. Ada tempat untuk istirahat, bisa minum, ada kopi, toilet dan mushala juga. Jadi lebih nyaman dan tidak terlalu khawatir mengganggu jalur kendaraan lain,” ujar Yudi.
Menurutnya, fasilitas tersebut juga memberikan ruang bagi pengemudi untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan sebelum kembali melanjutkan aktivitas.
“Yang paling terasa itu tempat menunggunya lebih nyaman dan tertata. Jadi kita bisa istirahat sambil menunggu panggilan untuk pelayanan berikutnya,” tambahnya.
Kehadiran Shelter Waiting Area menjadi salah satu bagian dari transformasi Terminal Petikemas Banjarmasin dalam meningkatkan pengelolaan alur kendaraan, mulai dari akses masuk hingga proses pelayanan bongkar muat. Penataan tersebut diharapkan dapat menciptakan pergerakan kendaraan yang lebih teratur sekaligus memberikan pengalaman layanan yang lebih baik bagi para pengemudi.
Terminal Petikemas Banjarmasin akan terus melakukan pengembangan dan penyempurnaan layanan dengan mengedepankan keselamatan, efisiensi operasional, serta kenyamanan pengguna jasa, sebagai bagian dari upaya menghadirkan pelayanan kepelabuhanan yang semakin baik dan responsif terhadap kebutuhan di lapangan.
Rel





