BANJARMASIN – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menggelar diskusi bertema “Penguatan Peran Akun Media Sosial Homeless Media dalam Ekosistem Media Lokal di Banjarmasin” di Ruang Rapat Gedung FISIP Baru Lantai 3, Senin (11/5/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Dosen Wajib Mengabdi (PDWA) yang diinisiasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ULM. Diskusi menghadirkan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kalimantan Selatan, AJI Persiapan Banjarmasin, serta sejumlah mahasiswa dan insan pers.
Dalam forum tersebut, peserta membahas fenomena homeless media atau akun agregator lokal yang semakin berkembang di era digital. Media sosial lokal dinilai memiliki kekuatan besar dalam membangun kedekatan emosional dengan masyarakat melalui penggunaan dialek Banjar dan metode bakisah atau bercerita.
Tim pengabdian dosen ULM menyebut akun lokal seperti Budi Rab dan Mermaid Danau memiliki tingkat keterlibatan (engagement rate) tinggi, bahkan melampaui rata-rata akun nasional. Konten berbasis sejarah dan budaya lokal dinilai mampu menghidupkan memori kolektif masyarakat sekaligus menjadi strategi efektif dalam mendukung promosi UMKM.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah keberhasilan Nyanyat Foodies yang mampu menembus pasar ekspor Australia melalui promosi influencer lokal.
Meski memiliki potensi ekonomi besar, pengelola media sosial diingatkan agar tetap menjaga profesionalisme dan objektivitas. Tim pengabdian menekankan pentingnya pemisahan antara konten editorial dan promosi berbayar.
“Konten bersponsor harus disampaikan secara transparan dengan label paid promote agar integritas media tetap terjaga,” ujar Achmad Bayu Chandrabuwono S. I. Kom, M.A tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ULM.
Selain itu, diskusi juga menyoroti risiko hukum yang dihadapi pengelola media digital, terutama terkait Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) Nomor 1 Tahun 2024.
Ketua SMSI Kalimantan Selatan, Anang Fadilah, mengatakan perkembangan teknologi informasi telah mengubah ekosistem media secara signifikan. Menurutnya, kemudahan membuat media digital juga memunculkan persoalan baru berupa menjamurnya media tanpa legalitas dan standar jurnalistik yang jelas.
“Media yang sehat bukan hanya memiliki website atau akun media sosial, tetapi juga harus memiliki tanggung jawab, legalitas, serta komitmen terhadap kode etik jurnalistik,” ujarnya.
Ia menilai keberadaan homeless media berpotensi memicu penyebaran informasi tidak terverifikasi, berita provokatif, hingga menurunkan kepercayaan publik terhadap media.
Dalam kesempatan itu, Anang juga menyoroti meningkatnya ancaman terhadap jurnalis saat menjalankan tugas peliputan. Menurutnya, wartawan kini tidak hanya dituntut cepat menyampaikan informasi, tetapi juga harus menghadapi tekanan, intimidasi, hingga ancaman hukum.
“Jurnalis bekerja untuk kepentingan publik, tetapi masih banyak yang menghadapi tekanan ketika mengungkap fakta penting di lapangan,” katanya.
FISIP ULM menegaskan pentingnya kolaborasi antara akademisi dan insan pers dalam membangun ekosistem media yang sehat, profesional, dan bertanggung jawab.
Melalui kegiatan tersebut, diharapkan sinergi antara insan media dan FISIP ULM dapat memperkuat literasi media, meningkatkan kualitas jurnalistik, serta membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya informasi yang akurat dan terpercaya di era digital. rel





