Home Techno Menjalankan 3 M Sebagai Protokol Kesehatan  

Menjalankan 3 M Sebagai Protokol Kesehatan  

9 min read
0
0
12

Satu tahun sudah perjuangan melawan Covid-19. Kini giliran vaksinasi yang bereaksi. Perlahan-lahan tapi pasti virus-virus yang “setengah mati” ini akan mengaktifkan antibodi. Berdasarkan laporan Kemenkes,  vaksinasi di Indonesia pada Rabu (31/3/2021) hingga pukul 12.00 WIB total penerima vaksinasi-1 sebanyak 8.010.163 dan penerima vaksinasi-2 sebanyak 3.664.708 orang. Dengan banyaknya orang yang kebal, maka terputuslah mata rantai pandemi. Dan Indonesia segera akan bangkit lagi. Tampaknya memang hanya dengan vaksinasi . kita bisa berharap dapat mengendalikan penularan Covid-19 yang kian hari kian mengkhawatirkan walau trennya menurun secara nasional. Namun kenyataannya,  meskipun pemerintah memberlakukan berbagai aturan pembatasan sosial di berbagai daerah serta terus mengkampanyekan 3 M (mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak) ,  laju pertambahan penderita Covid-19 terus menanjak.

Bahkan  tidak sampai setahun setelah dinyatakan bercokol di Indonesia , penderita Covid-19 sudah sampai menembus angka psikologis 1 juta orang. Kurva  penularannyapun masih terus menanjak. Dibanding penyakit lain yang sama-sama diakibatkan virus corona seperti SARS, Flu burung atau MERS, kecepatan penularan Covid-19 memang luar biasa. Kecepatan penularannya bisa 10-100 kali lipat. Karena itulah ketika sejumlah otoritas kesehatan mulai memberi lampu hijau bagi perusahaan pengembang vaksin untuk merilis produknya, pemerintah Indonesia langsung bergerak melobi sejumlah perusahaan. Lobi sejak awal September 2020 itu bertujuan mengikat kontrak pembelian vaksin, meski saat itu vaksinnya sendiri masih di uji coba.

 

Pertimbangan pemerintah saat itu, kalau vaksin sudah mulai beredar luas di pasaran, maka kebutuhan dunia akan melonjak. Jumlah permintaannya sungguh dahsyat, 12 miliar dosis!. Padahal kemampuan produksi vaksin tahun 2021 ini saja , hanya sekitar 3-4 miliar dosis. Selain bakal jadi barang rebutan, harganya juga bakal melonjak sesuai hukum pasar.  Sampai Januari 2021 pemerintah sudah memiliki kontrak pasti membeli 270 juta doksis vaksin. Sekilas terdengar luar biasa, namun jumlah itu masih jauh dibawah kebutuhan Indonesia yang mencapai 426 juta dosis. Sisanya masih harus dilobi dan berbagai produksi vaksin yang kini tengah merampungkan uji klinisnya.

 

Persoalan lain yang perlu dipahami juga  bahwa angka 270 juta vaksin sebenarnya baru sebatas komitmen diatas kertas. Pengiriman vaksin tidak sekaligus namun bertahap. Sampai awal  Februari 2021 jumlah total vaksin yang datang baru 28 juta dosis. Dari jumlah itupun, 15 juta dosis berupa bahan baku vaksin yang masih akan diolah oleh Biofarma. Sebagai negara berpenduduk terbanyak ke empat didunia, kebutuhan vaksin Indonesia tentu tidak main-main, 426 juta dosis! Perhitungannya,  dari 269 juta penduduk Indonesia saat ini, terdapat 168 juta orang berusia diatas 18 tahun. Dari jumlah tersebut, ada orang-orang yang untuk sementara dikesampingkan seperti ibu hamil, orang berpenyakit berat , atau yang sudah pernah terinfeksi Covid-19. Di kelompok ini ada sekitar 7 juta orang. Setelah dikalkulasi lagi dengan yang tidak divaksin, maka target vaksinasi Covit-19 menjadi 181 juta orang. Nah , jika setiap orang perlu dua dosis dan ditambah cadangan sekitar 15 persen maka didapatlah angka 426 juta dosis tadi.

 

Menurut rencana, vaksinasi tahap awal terdiri atas dua tahap. Tahap pertama, Januari-April 2021, menyasar 1,48 juta tenaga kesehatan, 17,4 juta petugas publik dan 21,5 juta lansia. Sedangkan fase kedua, Maret-April 2022, diberikan kepada 63,9 juta orng didaerah dengan risiko penularan tinggi dan 76,72 juta orang lainnya. Namun bukan cuma pengadaan vaksin yang butuh waktu, penyuntikan ratusan juta vaksin sampai semua kelar paling tidak butuh 15 bulan. Itupun sudah melibatkan 10 ribu Puskesmas, hampir 3.000 rumah sakit, serta klinik-klinik kesehatan di seluruh Indonesia. Artinya paling tidak vaksinasi ini baru akan selesai pertengahan tahun 2022.

 

Harus diakui vaksinasi memang bukan satu-satunya faktor yang bisa menghentikan pandemi. Masih ada cara lain. Vaksinasi dimaksudkan untuk membentuk kekebalan kelompok (herd imunity) yang nantinya akan memutus rantai penularan di masyarakat. Mekanismenya begini. Vaksin membuat seseorang kebal virus. Kalau semua orang divaksin, maka semakin banyak orang kebal. Kalau suatu saat diantara orang yang kebal itu ada yang terpapar virus, maka dia tidak akan sakit. Andaikan membawa virus sekalipun, maka dia tidak akan menularkan lagi ke orang lain, karena orang-orang di sekitarnya sudah kebal. Jika banyak orang yang kebal, maka mata rantai penularan akan terputus. Virus juga perlahan-lahan akan punah, Sebab sejatinya virus hanya hidup secara parasit dari orang ke orang lain. Potensi penularannya menjadi sangat kecil. Penderita juga tidak akan bertambah secara eksponensial. Disitulah pandemi akan terkendali dan Covid-19 akan jadi penyakit endemik seperti influenza saat ini.

 

Persoalannya tinggal soal ketersediaan vaksin saja. Jika pemerintah bisa menyediakan vaksin sesuai kebutuhan, maka semua akan lancar jaya. Faktor-faktor seperti infrastruktur vaksinator, bahkan jika ada sebagian kecil orang yang menolak divaksin sekalipun, tidak akan banyak berpengaruh, asalkan yang tidak mau divaksin tidak lebih dari 10 persen. Dan berbicara soal virus memang tidak akan terlepas dari sifat alamiahnya yaitu mutasi genetik. Apa boleh buat , memang begitu cara jasad renik berukuran dibawah 30 nanometer ini bertahan hidup dan tidak binasa oleh sistem kekebalan tubuh inangnya. Begitu pula saat mereka menumpang gratisan ditubuh kita dan berhadapan dengan vaksin. Pertanyaannya, apakah  masih ada kemungkinan virus akan bermutasi menjadi virus yang lemah dan tidak ganas seperti sekarang. Kemungkinan itu selalu  ada. Andai itu terjadi, Covid-19 kemungkinan bisa akan menjadi seperti flu biasa yang kita hadapi sehari-hari.

 

Contoh kasus yang pernah terjadi adalah saat pandemi Spanyol pada tahun 1918. Salah satu yang menghentikan pandemi yang menewaskan 5 juta orang di seluruh dunia itu adalah melemahnya virus influenza A tipe H1N1 yang menjadi biang keroknya. Nah siapa tahu itu juga akan terjadi pada virus SARS-CoV2 si penyebab Covid-19. Cuma masalahnya, kita tidak tahu kapan itu terjadi. Yang pasti, terdapat 3 fakta vaksin Covid-19 , anda tidak akan terkena Covid-19, vaksin tidak akan mengubah atau merusak informasi genetik dan meski sudah divaksin anda tetap harus menjalankan 3 M sebagai protokol kesehatan. Selamat Hari Kesehatan Sedunia, 7 April!

anangfadhilah

 

 

 

 

 

 

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Techno

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

Check Also

Danrem 101/Ant, Jabatan Merupakan Amanah Yang Harus Dipertanggungjawabkan

Banjarmasin – Penyerahan dan Penerimaan jabatan memiliki makna penting dan strategis…