Rosehan, Putera Banua Yang Dicintai Gus Dur

oleh -6 views

(Oleh: Khairi Fuady)

Dalam sebuah agenda ngopi-ngopi di Plaza Indonesia, saya berjumpa Bang Rosehan untuk bertukar cerita dan silang gagasan. Kami memilih Cafe Joe & Dough di lantai 2. Tempatnya Cozy, favorit, dan ramai muda-mudi elit Jakarta.

Bukan tentang Pilkada, apalagi tentang oligarki kepemimpinan daerah yang monopolistis. Saya justru lebih tertarik menggali soal persentuhan antara Rosehan dan Gus Dur semasa hidup. Konon, ketika Rosehan menjabat sebagai Wakil Gubernur Kalsel, intensitas perjumpaannya dengan Gus Dur termasuk sering dan berbobot.

Alkisah, Rosehan bertutur, 4 hari sebelum wafatnya, Rosehan berkunjung ke kantor PBNU untuk jumpa Gus Dur. Dia diterima di sebuah ruangan yang hari ini diabadikan sebagai “Pojok Gus Dur” di PBNU. Persis di ruangan yang tempo hari jadi tempat kunjungan Panglima TNI kepada Kiai Said Agil Siradj.

Bukan di atas Spring Bed dengan merk Airland, Comforta, atau King Koil, Gus Dur cuma rebahan di atas karpet sederhana dengan kondisi kesehatan yang tak begitu baik. Rosehan menyarankan agar Gus Dur pulang ke rumah untuk istirahat. Namun kata Gus Dur, “Rosehan, kalau saya pulang, siapa yang nerima tamu?”. Tak lama berselang Gus Dur tertidur sambil mendengkur. Rosehan kemudian menelpon isterinya di Banjarmasin, untuk sekedar memperdengarkan suara mantan Presiden yang tidurnya mendengkur, kenangnya sambil tertawa.

Salah satu karamah atau keistimewaan Gus Dur semasa hidup adalah intensitas silaturahimnya yang luar biasa. Bukan hanya dengan sesama manusia yang masih hidup, bahkan juga dengan yang sudah meninggal dunia, yakni makam Ulama, para pahlawan, dan Para Awliyaa. Menurut Gus Dur, menziarahi orang yang sudah meninggal itu justru lebih utama. Karena sejatinya mereka sudah tak punya kepentingan dunia. Bahkan dalam perjalanan hidupnya, Gus Dur tercatat banyak sekali menemukan makam-makam yang sebelumnya belum terdeteksi sebagai makam keramat. Namun setelah diziarahi Gus Dur, makam-makam tersebut mendadak ramai pengunjung.

Kembali pada Rosehan, ia bertutur bahwa satu hal yang istimewa dari Gus Dur, jika beliau dikasih sejumlah uang di dalam amplop, biasanya uang tersebut langsung dikasihkan lagi kepada tamu yang lain tanpa dibuka berapa nominal isi amplop tersebut. Tak peduli tebal tipisnya, atau bilangan rupiah kah, ringgit kah, atau bahkan dolar. Sebuah sikap teladan yang barangkali hari ini agak sulit untuk kita temukan pada sosok tokoh manapun.

MENGANTAR JENAZAH GUS DUR

Gus Dur menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Rosehan pun bergegas terbang dari Surabaya menuju Jakarta. Tiba di Bandara, ia langsung meminta driver tancap gas menuju Ciganjur, rumah duka tempat Gus Dur dimandikan dishalatkan. Sampai di jalan TB Simatupang, jalanan macet total. Mungkin saking banyaknya mobil yang sama-sama menuju rumah duka.

Akhirnya Rosehan memutuskan untuk turun dari mobil dan mencari ojek. Tak disangka ternyata ada Ayu Azhari yang juga sama-sama nyari ojek untuk ke rumah duka. Alhasil mereka iring-iringan naik ojek. Waktu itu belum ada transportasi online, masih konvensional.

Mereka pun tiba di rumah duka lalu membacakan tahlil dan doa-doa. Muhaimin Iskandar nampak duduk di satu sudut ruangan, karena mungkin masih ada perasaan tak enak dengan keluarga lantaran konflik antara kubu Cak Imin dan kubu Gus Dur masih tergolong panas.

Ketika jenazah hendak dibawa ke Jombang untuk dimakamkan di makam keluarga, Rosehan memilih untuk tidak ikut naik Pesawat Hercules. Sebab jika dia ikut naik Hercules, tentu ada bagian dari keluarga Gus Dur yang harus ketinggalan sebab kursi yang terbatas. Rosehan bergegas menuju Soekarno Hatta untuk menumpangi penerbangan domestik ke Jombang. Sialnya, nama dia tak tercantum dalam daftar tiket yang sudah disiapkan oleh tim. Namun beruntung ada yang bersedia mengalah lantaran kehadiran Rosehan di pemakaman dianggap penting sebagai salah satu kader PKB yang disayang Gus Dur.

Tiba di Juanda, ada lagi sedikit masalah. Mobil penjemputan tak siap. Akhirnya Rosehan dan rombongan memutuskan untuk sewa mobil beserta supirnya. Ketika itu yang ia tumpangi adalah Isuzu Panther yang relatif sudah agak tua. Namun karena mahabbah kepada Gus Dur, mereka pun melaju menuju Jombang tanpa pikir panjang.

Setibanya di Tebu Ireng, jamaah membludak dan jalanan macet total. Terpaksa kata Rosehan, ia harus menggunakan pasword sebagai Wakil Gubernur Kalsel sehingga dibukakan jalan sampai ke pemakaman. Rosehan pun terharu, ia ikut mengangkat dan menghantarjan jenazah Gus Dur hingga ke liang lahatnya. Berlaku sebagai Inspektur Upacara Pemakaman adalah Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Ibu Sinta Nuriyah sebagai penabur bunga. Dan Rosehan, turut membantu dan menyaksikan dari jarak terdekatnya. Setiap kali peristiwa ini ia ceritakan, memorinya selalu terkenang, ungkapnya. Allaahummaghfirlahu warhamuhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu.

Catatan: Ketika penulis mewawancara Rosehan untuk tulisan ini, bertapatan pula dengan momentum wafatnya Almarhum Almaghfurlah Kiai Maemun Zubair di Mekkah. Rosehan juga sempat mengenang perjumpaannya dengan Kiai Maemun di momentum Haul Gus dur di Ciganjur. Rosehan pun mencium tangan Kiai Maemun dan memperkenal diri sebagai mantan Wakil Gubernur Kalsel. Kiai Maemun pun berkata; “KAMU ITU GUBERNUR…”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.