Home Berita Bank Kalsel Syariah Kupas Aspek Hukum Pembelian Emas Tidak Tunai di TVRI Kalsel

Bank Kalsel Syariah Kupas Aspek Hukum Pembelian Emas Tidak Tunai di TVRI Kalsel

3 min read
0
0
66

Banyak orang memilih berinvestasi dengan emas. Selain harganya yang cenderung terus meningkat, emas juga mudah untuk dijual kembali.

Tidak jarang pula orang-orang melakukan pembelian emas secara tidak tunai. Bolehkah hal ini dilakukan menurut syariah?? Agar lebih jelas, saksikan Kajian Syariah. Jumat, 19 Juli 2019 pukul 17.30 Wita di TVRI Kalimantan Selatan.

Menurut pandangan Dr Oni Sahroni, Anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia, bahwa produk jual beli emas secara tidak tunai tersebut itu diperbolehkan. Syaratnya, emas yang dijual oleh koperasi sudah ada barangnya dan telah dimiliki sebelum dijual kepada anggota.

Kesimpulan tersebut didasarkan pada beberapa kaidah dan dalil. Pertama, transaksi yang terjadi dalam skema jual beli emas secara tidak tunai tersebut merupakan transaksi antara uang dan barang, bukan uang dengan uang, maka tidak disyaratkan tunai. Dan sebaliknya, jual beli emas tidak tunai itu diperbolehkan.

Kedua, hal ini sebagaimana hadis Ubadah bin ash-Shamit, Rasulullah SAW bersabda, “(Jual beli) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, syair dengan syair, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (dengan syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.” (HR Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nasa’i, dan Ibn Majah).

Ada juga hadis dari Umar bin Khatthab. Rasulullah SAW bersabda, ” (Jual beli) emas dengan perak adalah riba kecuali (dilakukan) secara tunai.” (HR Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad).  Kedua hadis tersebut mewajibkan transaksi antara emas dengan emas harus dilakukan secara tunai.

Ketiga, mazhab Malikiyah dan mazhab Syafi’iyah mengatakan bahwa illat emas dan perak yang ada dalam hadis Ubadah bin Shamit tersebut adalah mata uang (ru’us lil atsman). Oleh karena itu, emas (baik sebagai perhiasan maupun logam mulia) yang ada saat ini, seperti yang diperjualbelikan dalam pertanyaan di atas itu bukan mata uang, tetapi sebagai komoditas sebagaimana pandangan tradisi masyarakat dan otoritas yang menjadi referensi sesuatu itu uang/mata uang atau tidak. (Bidayah al-Mujtahid, Ibnu Rusyd bab riba al-buyu).

Dengan demikian, maka pertukaran antara mata uang dan emas sebagaimana dijalankan pada produk koperasi tersebut tidak diharuskan tunai, tetapi boleh tidak tunai dan tidak termasuk riba jual beli (riba nasa’) karena pertemuan (tukar menukar) antara uang dan barang.

rel/MB

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Sinergi ‘Merah-Putih’, Bank Kalsel Teken MOU Bersama Angkasa Pura Suport

Banjarmasin, 25 Februari 2021 – Sinergi ‘Merah – Putih’ yang digagas oleh Bank…