Youth Leadership Peace Camp 2018: Perjumpaan Agama-Agama, Mengukuhkan NKRI

oleh -7 views

“Perjumpaan Agama-Agama, Mengukuhkan NKRI” menjadi tema kegiatan Youth Leadership Peace Camp 2018 yang dilaksanakan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari Banjarmasin bekerjasama dengan Equal Access International dan Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bertempat di Kiram Park, Kabupaten Banjar, 24 – 26 September 2018. Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Dr. Nida Mufidah, M.Pd.

Acara pembukaan yang diadakan pada hari Senin (24/09/2018) Pukul 20.30 di Pendopo Kiram Park dihadiri oleh Dekan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Dr. Irfan Noor, Wakil – Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Ketua – Ketua Program Studi dan para peserta, mahasiwa dari berbagai perguruan tinggi di Kalimantan Selatan dan latar belakang agama yang berbeda – beda. Selain itu aktivis lintas agama, aktivis sosial/LSM, muballigh/pendakwah muda dan blogger atau pengkaji media sosial jadi bagian kegiatan ini. Hadir pula peserta dari berbagai negara yang merupakan anggota dari Equal Access International.

“Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) merupakan Pusat Studi Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang, (berdiri 2009) yang melakukan kajian, riset dan publikasi dibidang keagamaan, sosial politik, budaya dan bidang lainnya dalam perspektif multikulturalisme”, ujar Nafi Muthohirin saat memperkenalkan diri dan PUSAM. Kegiatan ini salah satu bentuk program dari PUSAM yang kali ini kita adakan di Banjarmasin.

Zakharia atau Mr. Zak dari Equal Access International mewakili rekan-rekannya yang datang dari beberapa negara, menyampaikan rasa senang berada diantara peserta yang hadir yang berasal dari berbagai agama. “Meski kita berbeda agama, suku dan ras, mari kita bersama – sama menjaga perdamaian tidak hanya di Indonesia dan Asia tapi juga menjaga perdamaian didunia” ajaknya.

Dr. Nida Mufidah, mewakili Rektor dalam sambutannya menyampaikan beberapa pesan dan poin penting sehubungan kegiatan ini. “Penting bagi generasi muda untuk membangun semangat saling menghargai  di antara pemeluk agama” bukanya.

Kegiatan ini diadakan dalam rangka merayakan hari perdamaian internasional setiap tanggal 21 September. Menjadi ajang berkumpulnya komunitas pemuda di Kalimantan Selatan untuk saling mengembalikan dan berdialog antar agama mencari solusi permasalahan yang berkaitan dengan keagamaan, membangun jaringan dalam semangat kebinekaan serta menjadi pengingat bagi masyarakat, Kalimantan Selatan khususnya untuk mencipktakan perdamaian dan menolak segala bentuk kekerasan.

Amanat untuk menciptakan perdamaian dan menghargai kebinekaan termaktub sangat jelas Undang – Undang Dasar 1945 dan Pancasila,  “Five basic principles of the Republic of Indonesia. God almighty,  civilized humanity, the unity of Indonesia,  democracy, social justice for all Indonesians” ujar dosen bahasa inggris ini melanjutkan.

Islam sebagai agama “rahmatan lil alamin” harus mampu mencegah kekerasan, radikalisme dan ekstrimisme yang tidak terlepas dari kerangka negara kesatuan Republik Indonesia dan semangat nasionalisme.

“Diharapkan dari kegiatan ini dapat dihasilkan rekomendasi bagi perdamaian dunia dan dapat disampaiakan lewat media sosial. Diharapkan juga kegiatan semacam ini dapat terus diadakan” tutupnya.

Sebelum kegiatan di Kiram Park, sore harinya telah dilaksanakan penandatanganan nota kesepahamaman atau MoU antara UIN Antasari Banjarmasin dengan Equal Access International dan Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di kampu UIN Antasari Banjarmasin. (rfn/humas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.