Home Berita Tetap Waras di Tengah Candu Media Sosial

Tetap Waras di Tengah Candu Media Sosial

8 min read
0
0
114

PENGGUNA internet menghabiskan rata-rata 135 menit dalam sehari untuk mengakses media sosial. Layaknya dophamine, ia menghasilkan reaksi kimia dalam otak yang menciptakan perasaan senang.

Infografik yang diterbitkan Digitalinformationworld.com (DIW), platform konten visual bentukan desainer grafis dan bloger asal Pakistan Irfan Ahmad, sejak 2013, menyebutkan 60% perempuan mengaku adiksi media sosial, sedangkan 56% laki-laki merasa takut kehilangan sesuatu sehingga mereka perlu selalu memantau media sosial.  

Saat ini, media sosial memang sudah menjadi bagian kehidupan dari bangun hingga mengantar kita tidur. Dalam studi The University of Salford, Manchester, Inggris, yang melibatkan 298 pengguna media sosial, 50% responden mengatakan menggunakan media sosial, seperti Facebook atau Twitter yang membuat hidup mereka lebih buruk. Hal itu disebabkan mereka merasa menderita ketika membandingkan apa yang didapat oleh teman di dunia maya mereka.

Diskusi oleh Ubah Stigma

Kondisi ini tentu memicu kondisi kesehatan kita yang tak seimbang. Dalam diskusi Let’s Talk about Mental Health yang diselenggarakan Ubah Stigma, organisasi nonprofit yang didirikan 15 mahasiswa yang peduli pada isu kesehatan mental di Indonesia, psikolog Elizabeth Santosa memang mengungkap media sosial menjadi salah satu penyebab gangguan kesehatan mental, khususnya anak muda.  

“Makanya kalau mau tidur, tutup tuh Instagram. Ngobrol sama teman kosan kalian, misalkan. Gadget bukan satu-satunya penyebab. Yang dibutuhkan sebenarnya adalah responsibility,” kata perempuan yang akrab disapa Lizzie ini, di Lembaga Kebudayaan Amerika @atamerica, Jakarta Selatan, Sabtu, (18/8).

Lizzie mengungkapkan, sebenarnya yang bermasalah bukanlah media sosial atau gawai sebab itu merupakan sebatas alat yang kita gunakan. Namun, karena seringnya pemakaian, menyebabkan adiksi dan kehilangan kontrol diri. Selain Lizzie, psikolog Margareth Khoman yang juga merupakan akademisi menyebut definisi sehat mental memiliki beberapa kriteria.

“Sehat mental itu bisa dilihat dari apakah mereka bisa melihat potensi mereka, kekurangan dan kelebihan apa dalam diri, bisa bersosialisasi, bisa melakukan pendekatan, dalam bergaul juga bisa menempatkan diri, dan bagaimana cara mereka bersikap,” ungkapnya merujuk kriteria sehat mental menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Lizzie pun menyimpulkan, untuk bisa dikatakan sehat mental, berarti kita harus bisa berkontribusi di tengah masyarakat. Apabila kita tidak harmonis dan tidak bisa aktualisasi diri, serta tidak memiliki kontribusi kita dengan sesama lingkungan, perlu mengecek kondisi kesehatan mental kita.

Akun curhat Sehatmental.id

Di tengah berkembangnya wacana isu kesehatan mental Indonesia yang kini mulai mendapat tempat, meski belum optimal, usaha kampanye pentingnya peduli pada kesehatan mental juga dilakukan Sehatmental.id, komunitas yang kini bertransformasi menjadi rintisan bisnis sosial bentukan Ade Binarko dan Rama Giovani, dokter spesialis kejiwaan.

Melalui akun Instagram mereka, @sehatmental.id kerap memberikan informasi seputar kejiwaan dan permasalahannya, seperti kiat mengatasi stres dan penyebabnya, gangguan kecemasan, dan beberapa permasalahan hubungan sosial.

Langkah lain yang menarik dari Sehatmental.id ialah adanya layanan online conselling lewat aplikasi pesan singkat Line. Layanan yang telah dimulai sejak awal tahun ini pun sudah menerima 1.500 layanan hingga Juli silam.

“Harus digaris bawahi, online counselling ini adalah peer counselling, yaitu konseling sebaya, jadi konselornya ialah mahasiswa psikologi dan sudah lulus mata kuliah konseling. Ini permulaannya karena sudah banyak banget yang e-mail ke kita kalau mereka memang butuh platform berbagi,” ungkap Chief Operations Officer (COO) Sehatmental.id, Olphi Disya Arinda, pada awal Juli, di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat.

Olphie yang juga merupakan lulusan psikologi ini mengungkapkan, konselor sebaya sifatnya hanya sebagai teman baik. Para konselor tidak diperkenankan memberi solusi dan terapi, tetapi harus merekomendasikan ke psikolog profesional.

“Sebagian besar klien enggak tahu apa yang dia rasa dan permasalahkan, emosi negatif, marah, sedih, tapi enggak bisa berpikir masalahnya apa, kami membantu framing masalahnya. Ini loh yang kamu permasalahkan, jadi gimana biar bisa balik lagi ke titik netral. Sebaik apa pun kita berikan anjuran, saran, dan rekomendasi, keputusan balik lagi ke keputusan klien.”

Meski kesehatan mental ini tidak tampak kasat mata, kita bisa mendeteksi dini. Gejala bisa terlihat lewat perilaku, sikap, dan terdeteksi lewat pikiran.

“Kita bisa deteksi dini, ada hal yang salah atau harus dibantu, kalau sudah ngomongin gejala memang beda-beda. Tidak bisa digeneralisasi. Namun, kalau sudah sampai pola makan berubah, sering merasa stres, mood juga berubah-ubah, sudah tanda awal ada yang terjadi dengan kesehatan mental kita. Jadi, harus segera cek agar tahu kondisi kita ini lagi kenapa sih,” lanjut Olphie.

Jangan diagnosis sendiri

Perlunya datang ke psikolog juga untuk menghindari agar kita tidak mendiagnosis sendiri (self claim), yang hanya berdasar sumber bacaan. Tanpa mendatangi psikolog atau berbicara ke konselor, tentu hanya akan memperburuk keadaan karena pada akhirnya kita akan menjustifikasi dan malah menarik diri dari lingkungan.

Bila kita sudah merasa menderita saat bermedia sosial sebab kita membandingkan kehidupan teman dan energi negatif tersebut lebih intens ketimbang energi positif yang kita miliki, perlu adanya manajemen emosi. Sobat Muda juga bisa mencoba layanan konseling sebaya yang dimiliki Sehatmental.id, bila merasa tidak bisa melakukan framing permasalahan.

Penulis: Fathurrozak Jek

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Check Also

Banjarbaru dan Banjarmasin Terapkan PPKM Level IV

Banjarmasin – Terhitung  Senin  26 Juli sampai 8  Agustus 2021, Kota Banjarmasin dan…