Home Berita Generasi Milenial Ingin Pilpres Jadi Ajang Adu Gagasan, Bukan Tebar Fitnah

Generasi Milenial Ingin Pilpres Jadi Ajang Adu Gagasan, Bukan Tebar Fitnah

4 min read
0
0
71

Pertarungan menuju Pilpres 2019 mulai memanas. Tahun politik memang mencapai puncaknya pada Pemilihan Presiden 2019, karena memperhadapkan dua tokoh besar tanah air, yaitu Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Bisa dikatakan sejak pilpres 2014 kedua tokoh ini telah menjadi dua poros sentral dinamika perpolitikan tanah air. Dengan segala dinamikanya dan mengharu biru jagad politik negeri ini.

Lantas apa kata generasi milenial melihat pilpres ini? Menurut Yoseo Maya Pong Masak–Corporate Communication XL North dan Laitina Suria Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kalsel, ajang Pilpres 2019 diharapkan bisa berjalan kondusif dan tak lagi diramaikan dengan isu hoax, isu Agama, fitnah dan SARA  yang justru memunculkan benih permusuhan. Polemik ini cukup terasa pada Pilkada DKI Jakarta 2017.

“Masyarakat sudah cukup cerdas, lebih elok jika ajang pilpres saling mengadu program dan gagasan yang konstruktif untuk membangun negeri ini,” tegasnya, ketika dihubungi Selasa (14/9).

Ketika dimintai tanggapannya ajang pilpres bagi generasi milenial? Dara cantik lulusan master komunikasi Universitas Atmajaya Jakarta ini menilai, generasi milenial harus bisa menyikapi pilpres secara bijak dan cerdas. Karena akan muncul banyak pendapat.

“Untuk itu generasi millennial harus menyikapi pilpres ini dengan positif. Tentunya banyak pendapat yang akan muncul, tapi sekaranglah saatnya generasi millennial mengambil peran,” ujarnya.

Menurut Maya, isu agama bisa saja menjadi isu yang akan terus diangkat di pilpres tahun ini. Tapi bagi generasi millennial, bukan agama yg melatarbelakangi pilihan mereka. Tapi bagaimana kualitas dan program kerja yang akan ditawarkan oleh masing-masing calon.  “Jadi isu agama tidak akan berpengaruh banyak terhadap pilihan kami nantinya, pilpres harus adu gagasan bukan tebar permusuhan dan fitnah,” katanya.

Sementara Ketua HIPMI Kalsel Laitina Suria berharap, isu hoax serta fitnah diredam karena tak memberikan pendidikan politik.

“Pada Pilpres hendaknya tidak mengembangkan isu hoax karena tak mendidik. Kita berharap pendidikan politik pada masyarakat sejalan dengan meningkatnya peradaban masyarakat,” kata pengusaha muda yang akrab disapa Tina ini.

Menurut Tina, pendidikan politik sangat diperlukan agar perkembangan demokrasi tak berjalan mundur. Sebab, kata dia, persaingan boleh saja terjadi tapi jangan sampai menimbulkan benih permusuhan.

“Kontestasi politik dalam hal yang wajar boleh saja tapi jangan sampai dibuat pecah, cukup pengalamam Pilpres 2014 dan Pilkada DKI 2017 cukup menguras energi kita yang enggak perlu,” kata Tina.

Tina berharap, persoalan ekonomi bisa dijawab oleh pasangan pilpres nanti, karena memang persoalan bangsa ini tak terlepas dari soal ekonomi. “Prabawo-Sandi dan Joko Widodo-Maruf Amin merupakan putra terbaik bangsa ini, tentu saja akan melakukan hal terbaik bagi bangsa ini,” harapnya.

nikofarizki

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Polres Batola Lakukan Pengamanan Penyerahan APD ke KPU Pada Pilkada Tahun 2020

Batola, dalam rangka pengamanan PAM Penyerahan APD ( Alat Pelindung Diri ) Alat kelengkapa…