Home Berita LSM KAKI Minta Aparat Bertindak, Pertambangan Batu Gunung di Tala Diduga Banyak tak Kantongi Izin

LSM KAKI Minta Aparat Bertindak, Pertambangan Batu Gunung di Tala Diduga Banyak tak Kantongi Izin

8 min read
0
0
50

Gencarnya aktifitas pertambangan batu gunung (galian C) sebagai bahan utama pembangunan infrastruktur, menimbulkan dampak kerusakan lingkungan cukup parah. Maraknya aktifitas penambangan batu gunung atau galian C yang dikerjakan baik menggunakan alat berat maupun penambangan konvensional.

Ketua LSM Komite Anti Korupsi Indonesia (KAKI) Kalsel, Akhmad Husaini menegaskan, pihaknya sejak lama mendesak pemerintah daerah setempat menertibkan perizinan serta aktifitas pertambangan galian C. Berdasarkan hasil pengamatan LSM KAKI, gencarnya kegiatan tambang galian C telah menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan berupa rusaknya bentang alam dan ancaman tanah longsor.

“Kehidupan alam dan kerusakan alam akan terjadi karena ditambang secara liar. Rusaknya kawasan hutan yang merupakan area resapan air, sehingga bencana banjir terus menghantui masyarakat sekitar. Seharusnya, kebijakan pembangunan yang dilakukan pemerintah tidak mengenyampingkan dampak kerusakan lingkungan,” katanya Selasa (3/7) .

Kata Husaini, aktifitas pertambangan batu gunung di Tanah Laut terindikasi, bermasalah, dalam aktifitas yang lagi marak ini, ada yang, izin nya sudah mati, dan juga yang tidak berizin, pertambangan tersebut ada diwiiyah Kecamatan Pelaihari, Gunung Katunun, dan Desa Pemuda.

“Sampai sekarang terkesan pihak penambang tidak ada niat baik untuk melalukan perpanjangan izin. Hal ini sangat kami sesalkan,” katanya.

Husaini mengatakan, ada beberapa titik pertambangan batu gunung yang terindikasi bermasalah dalam perizinan. Karena sektor pertambangan, menjadi kewenangan Propinsi Kalsel. Sehingga pihak penambang melalukan pengurusan ke Provinsi Dinas Pertambangan dan Perijinan Kalsel. Tapi tampaknya pihak penambang terkesan tidak serius mengurus perpanjangan ijin.

“Kami akan rekomendasikan dan meminta pihak Polres Tala dan Polda Kalsel untuk melakukan penertiban tambang tanpa izin ini,” katanya.

Husaini mengatakann, keberadaan batu gunung ini sangat bernilai ekonomis yang cukup tinggi, karena batu gunung ini sebagai bahan baku untuk pembangunan proyek pemerintah. Baik untuk siring dan juga pengaspalan jalan, sehingga wajar untuk melalukan pengurusan izin, baik secara UU juga bisa menambah pendapatan daerah. Jika tidak punya ijin, artinya hanya alam yang rusak,” jelas Husaini.

Sementara Kabid Perizinan Provinsi Kalsel Miftahul ST. MT mengatakan, pihaknya memberikan kemudahan bagi para penambang batu gunung untuk membuat perizinan.  “Kami berikan kemudahan, dalam pengurusan perijzanan, baik Galian C dan izin lainya sesuai dengan pengalihan kewenangan ke Provınsi Kalsel,” katanya.

Salah satu Penambang, yang tergabung dalam Asosiasi Penambang Tanah Laut, H, Asnan mengatakan, dirinya mengakui izin tambangnya sudah mati dan saat ini sedang melalukan pengurusan. Dalam hal wilayah tata ruang. “Saat ini, untuk tata ruang sudah selesai, selanjutnya tinggal pengurusan izin ke Pemprov Kalsel,” katanya,

Pengelolaan Tambang Galian C

Setiap daerah memiliki potensinya masing-masing. Pemanfaatan potensi  alam tersebut boleh untuk apa saja dan siapa saja, tetapi tetap ada aturan dan norma yang hasrus di taati dan “disepakati”.  Sungai yang mengalir di bentangan alam ini juga menyediakan potensi yang bisa dimanfaatkan salah satunya adalah bahan tambang galian C.

Galian C adalah bahan tambang yang biasanya digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Baik bangunan pribadi, swasta maupun pemerintah. Salah satu contoh kongkrit galian C yang berasal dari sungai adalah Batu, Koral, serta pasir sungai.

Permasalahan yang paling pertama muncul dari pengelolaan galian C di daerah ini adalah kerusakan jalan yang dilalui oleh kendaraan pengangkut galian C tersebut dari lokasi tambang menuju ke “konsumen”. Hal ini disebabkan karena kapasitas jalan sebelum hadirnya galian C didaerah ini masih dilapisi dengan aspal kasar (bukan Hotmik) sehingga tidak mampu untuk menahan beban diatasnya yang setiap hari dilalui oleh truk-truk berbadan besar  (Tonase muatan kenderaan tidak sebanding dengan Tonase kelas jalan) sehingga satu-satunya jalan menuju desa yang menjadi lokasi galian C tersebut rusak parah sehingga masyarakat susah untuk menuju dan ke luar apabila menggunakan sepeda motor atau kenderaan roda empat yang relatif kecil lainnya.

Permasalahan yang kedua adalah pencemaran di daerah hilir dari lokasi galian C. Pencemaran air yang terjadi terutama disebabkan oleh proses pengerukan material tersebut dari dalam air, sehingga air menjadi keruh dan bercampur minyak sedangkan sungai tersebut sebagian besar digunakan masyarakat sebagai sarana MC (Mandi dan Cuci) dan masih ada juga beberapa masyarakat yang menggunakannya sebagai sarana air bersih. Habitat yang ada di dalam air terutama ikan-ikan dan berbagai mahluk hidup lainya juga ikut tergangu.

Karena ketersediaan bahan galian C merupakan salah satu sumber daya alam yang tidak bisa diperbaharui, maka permasalahan baru muncul. Habisnya bahan galian C dari dalam sungai menyebabkan pihak perusahaan mulai melakukan ekspansi atau perluasan ke lahan-lahan yang ada disepanjang sungai yang memiliki potensi bahan galian C dibawahnya.

Kepada pihak pemerintah khususnya pemerintah Kabupaten Tanah Laut agar melakukan pengawasan secara berkala terhadap aktivistas tambang galian C di wilayah kerjanya. Dalam UUD 1945 diamanatkan bahwa kekayaan alam yang terkandung didalamnya digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

fariz

 

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Antisipasi Balapan Liar Polsek Banjarbaru Barat Tingkatkan Patroli Jalan Lingkar Utara

Polsek Banjarbaru Barat merupakan jajaran Polres Banjarbaru. piket fungsi lantas tingkatka…